Home / SEJARAH

SEJARAH


Sejarah Pendirian Universitas Islam Batik Surakarta

faviconunibasmaaalSebelum berdirinya UNIBA Surakarta, ada perjalanan panjang yang harus ditempuh. Perjalanan itu berkaitan dengan historisitas lembaga-lembaga pendidikan Islam di Surakarta. Setidaknya perjalanan sejarah itu dapat dilacak mulai dari pembukaan cabang Universitas Islam Indonesia (UII) di Surakarta pada tahun 1963. Induknya adalah UII Yogjakarta. Kala itu, pembukaan UII cabang Surakarta dimulai dengan pembukaan Fakultas Hukum. Setelah perjalanannya mulus, UII lantas mengembangkan fakultas lainnya, yaitu fakultas Ekonomi, Tarbiyah, Syari’ah, dan kemudian belakangan muncul Fakultas Kedokteran.
Pada pertengahan tahun 1970an, Pemerintah Republik Indonesia berencana untuk mendirikan Universitas Negeri di Surakarta. Universitas itu yang kelak berdiri dengan nama Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS). Sebelum berdirinya UNS, pemerintah menghimbau agar perguruan tinggi yang ada di Surakarta melakukan penggabungan menjadi satu dengan naungan Universitas Gabungan Surakarta (UGS). Akibat penggabungan itu, maka fakultas-fakultas non agama yang didirikan oleh UII semua bergabung ke dalam UGS. Fakultas yang tersisa adalah Tarbiyah dan Syari’ah. Dua fakultas ini tersisa, karena afiliasinya ke Departemen Agama, bukan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional kala itu. Setelah bergabung, UGS statusnya diubah menjadi status negeri pada tahun 1976, dengan nama Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Dua fakultas yang tersisa, yang berafiliasi ke Departemen Agama, yaitu fakultas Tarbiyah dan Syari’ah sebenarnya sudah tergolong mau bergabung dengan UNS. Kala itu statusnya diakui. Karena tidak bisa bergabung dengan UNS, dan untuk memenuhi persyaratan penyelenggaraan kala itu, maka pada tahun 1978 didirikan Yayasan Perguruan Tinggi Islam Surakarta yang disingkat dengan YAPERTIS. Yayasan ini dimotori oleh panitia tujuh yang diketuai oleh Drs. Soenarwan. Adapun panitia tujuh itu terdiri dari: KH. Ali Darokah, Drs. H. Syarifah Muhtarom, Drs. H. Komari Alwan, Drs. Moh. Badri, H. Muhammad Amir, SH, Drs. H. Soenarwan, dan Bachrun Martosukarto, SH. Setelah terbentuk YAPERTIS, KH. Ali Atmodjo didaulat sebagai ketua umum YAPERTIS dengan sekretarisnya Drs. Moh. Badri, dan Bendahara H. Ahmad Joyosuro, dan KH. Ali Darokah sebagai penasehat.
Perjalanan YAPERTIS terus mengalami progress yang positif. Dalam waktu yang sangat singkat, kurang lebih satu tahun, tepatnya tanggal 2 Mei 1979, dengan mengambil moment Hari Pendidikan Nasional, YAPERTIS berhasil mendidikan institusi pendidikan baru dan lebih besar yang diberi nama Universitas Islam Surakarta (UNIS). Jumlah fakultasnya ada 8 (delapan) fakultas, setelah menambah enam fakultas baru di luar fakultas yang telah ada, yaitu Tarbiyah dan Syari’ah. Kedelapan Fakultas itu adalah: Tarbiyah, Syari’ah, Kependidikan, Sosial Politik, Ekonomi, Teknik, Pertanian, dan Hukum. Hanya saja, ketika pengurusan ijin kepada Departemen Pendidikan melalui Kopertis VI mengalami kesulitan-kesulitan.
Atas adanya kesulitan itu, KH. EZ Muttaqin berinisiatif menjadi mediator dalam pengurusan perijinan itu untuk meyakinkan pemerintah. Ijin itu akhirnya keluar, hanya saja yang diakui hanya tiga fakultas (Hukum, Ekonomi, Pertanian), yang semuanya non agama. Syarat lainnya adalah penggantian nama universitas menjadi nama pahlawan. Keluarnya ijin itu tidak lepas dari adanya pertimbangan pada peran KH. Ali Atmodjo, yang namanya tercantum dalam YAPERTIS (yang mengajukan UNIS) dan YPB (yang telah memiliki Akademi Akuntansi dan Manajemen). Berdasar pertimbangan itu, ijin diberikan dengan arahan agar tiga fakultas itu didirikan dibawah naungan YPB sebagai bentuk pengembangan dari AMM yang telah beroperasi.
Hasil dari negosiasi yang panjang itu akhirnya diterima. Tiga fakultas tersebut diintegrasikan dalam Universitas Islam Kyai Modjo (UIM). Dengan berdirinya UIM ini, maka antara UIM dan UNIS menjadi terpisah. UNIS tidak jadi berdiri karena tidak ada ijin dari Dikti. Sehingga tiga fakultas lainnya, yaitu Kependidikan, Sosial Politik, dan Teknik akhirnya batal berdiri. Sedangkan Fakultas Tarbiyah dan Syari’ah tetap dilangsungkan. Hanya saja nama institusinya tidak lagi bernama UNIS, karena hanya ada dua fakultas. Sedangkan syarat minimal untuk mendirikan universitas adalah tiga fakultas yang bercirikan eksakta, social, budaya, agama. Berkaitan dengan factor-faktor itu, maka pada tahun 1988 nama UNIS diganti menjadi Institut Mamba’ul ‘Ulum (IIM), yang kelak berganti lagi dengan nama Sekolah Tinggi Agama Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta, yang disingkat STAIMUS.
Setelah UIM resmi mendapatkan ijin pendirian, UNIS dan UIM menjadi institusi yang berbeda. Perbedaan ini menimbulkan konsekuensi untuk penanganan secara terkonsentrasi yang dilakukan oleh personal-personal yang membawahinya. Bentuk konsekuensinya, jabatan ketua YAPERTIS juga harus berganti, karena ketua umumnya yaitu KH. Ali Atmodjo harus berkonsentrasi sepenuhnya menangani UIM yang berada lebih dekat dengan YPB yang juga beliau ketuai. Jabatan ketua YAPERTIS pun akhirnya diserahterimakan kepada ketuanya yang baru, yaitu H. Muhammad Amir, SH. Mengingat UIM adalah perguruan tinggi, yang seharusnya tidak dinaungi oleh YPB yang hanya menaungi sekolah-sekolah menengah, maka dibentuklah yayasan baru yang dinamai Yayasan Perguruan Tinggi Batik, yang disingkat YAPERTIB, dengan ketua KH. Ali Atmodjo.
Munculnya ijin baru dengan nama Universitas Islam Kyai Modjo ini pada waktu itu sempat menimbulkan beberapa isu yang tendensius dan miring, terutama dimunculkan oleh pihak-pihak yang tidak mengerti dengan baik tentang kemunculannya itu. Mereka yang memunculkan isu itu umumnya adalah pihak-pihak yang tidak terlibat langsung. Isu yang muncul kala itu adalah KH. Ali Atmodjo mengambil keputusan untuk kepentingannya sendiri. Isu itu santer dituduhkan, karena nama Kyai Modjo yang disandangkan pada UIM sejatinya merujuk pada nama KH. Ali Atmodjo itu sendiri. Desas-desus itu sendiri dirasa cukup mengganggu. Oleh karena itu KH. Ali Atmodjo lalu menggantinya dengan nama Universitas Islam Batik Surakarta.
Pemberian nama Islam dalam UNIBA ini sengaja disemangatkan oleh KH. Ali Atmodjo, sebagai wujud dari sejarahnya bahwa universitas itu berdiri dari sejarah pendidikan Islam yang digagas oleh para pendahulu-pendahulunya. Penggantian nama ini sekaligus sebagai jawaban atas berbagai isu yang berkembang, bahwa KH. Ali Atmodjo tidak punya maksud sedikitpun untuk mengambil keuntungan dari kejadian itu. Yang diinginkannya adalah memperlancar operasional guna menindaklanjuti visi pendidikan Islam yang digagas para pendahulunya. Sebagai pengganti nama Kyai Modjo, maka digantikanlah dengan nama Batik, sehingga namanya menjadi Universitas Islam Batik Surakarta.
Pemberian nama Batik ini sendiri mempunyai alasan tersendiri. Selain karena idenya diusung oleh para pengusaha-pengusaha batik Surakarta, ada alasan lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu nama Batik dimaksudkan untuk mewakili tradisionalitas. Makna Tradisionalitas ini disandingkan dengan nama Islam diharapkan akan menjadi ciri kesejatian visi pendidikan yang diusung para ulama Solo ketika itu. Para ulama pada waktu itu khawatir dengan merebaknya budaya baru yang bercorak western menjangkiti generasi muda. Untuk mengerem laju modernitas yang berpotensi merusak tatanan moralitas bangsa, maka perlu pendidikan yang berlandaskan agama Islam dan tidak melupakan budaya bangsa, yang sebenarnya mempunyai keagungan tersendiri. Pemberian nama itu sendiri bukan berarti menolak seluruhnya atas modernitas. Modernitas tetap diadopsi melalui penyerapan ilmu-ilmu dan teknologi yang dipelajari di dalam mata kuliah.