Home / Info Kampus / PEMENTASAN WAYANG KULIT: NAYANTAKA NATA PRAJA, AGENDA PAMUNGKAS DI DIES NATALIS KE 36 UNIBA SURAKARTA

PEMENTASAN WAYANG KULIT: NAYANTAKA NATA PRAJA, AGENDA PAMUNGKAS DI DIES NATALIS KE 36 UNIBA SURAKARTA

Pagelaran wayang adalah agenda pamungkas dalam peringatan Dies Natalis ke-36. Agenda ini digelar pada hari Jum’at tanggal 26 Juli 2019. Ki Bagong Darmono adalah dalang yang ditunjuk pada pentas kali ini. Ki Bagong Darmono sendiri adalah alumni UNIBA Surakarta Fakultas Hukum Program Studi Ilmu Hukum.

Pagelaran wayang kulit  dilaksanakan di halaman depan kampus UNIBA Surakarta. Pelaksanaan acara pementasan wayang kulit ini dimulai pukul 19.30 WIB hingga pukul 03.00 dini hari keesokan harinya. Pementasan wayang kulit yang digelar di UNIBA Surakarta diperuntukan bagi civitas akademika UNIBA Surakarta dan masyarakat umum. Untuk dapat menikmati pertunjukkan ini para penonton tidak dikenai biaya. 

Pagelaran wayang kulit kali ini mengusung lakon Nayantaka Nata Praja. Pagelaran wayang kulit ini akan menceritakan mengenai kisah yang terjadi di Padhepokan Karang Kadhempel. Ki lurah Semar yang sedang memikirkan atas tatanan pemerintahan. Tiba-tiba datanglah Prabu  Baladewa bersama patih Sengkuni dari Hastinapura. Kedatangan Prabu Baladewa bersama patih Sengkuni bertujuan untuk mengingatkan Ki Lurah Semar agar tidak meminta jimat Kalimasada dari negara Amarta, dikarenakan jimat Kalimasada akan digunakan sebagai sarana untuk budi pekerti rakyat kerajaan Hastinapura. Akan tetapi Semar tetap bersikukuh untuk meminta Jimat Kalimasada. Hal tersebut membuat perselisihan antara Baladewa dengan Petruk, putra Semar, hingga akhirnya menjadikan perang antara Punokawan melawan Kurawa.

Pada saat terjadi peperangan, datanglah Puntadewa melerai. Mengabarkan, bahwa Kalimasada dan Payung Tunggul Wulung hilang. Akhirnya, Puntadewa menyampaikan sayembara, “Barang siapa yang berhasil menemukan Kalimasada dan Payung Tunggul Wulung, maka dialah yang berhak MEMINJAM kedua benda tersebut.” Maka lurah Semar dan Baladewa bergegas mencari dua pusaka tersebut.

Sementara itu di Kerajaan Dwarawati dengan Raja Sri Kresna kedatangan Raja Kalimantara dari seberang. Kedatangan Raja Kalimantara tersebut bermaksud akan menjarah Kerajaan Dwarawati. Peperangan pun terjadi, hingga Kresna kalah yang akhirnya mengharuskannya untuk mencari bantuan.

Di tempat lain, Semar sedang melakukan perjalanan keliling dunia hingga ke Khayangan Alang-Alang Kumitir, bertemulah Semar dengan Dewa Ruci. Pertemuan tersebut membuat, Semar berguru kepada Dewa Ruci. Dewa Ruci menyampaikan pesan kepada Lurah Semar, bahwa Lurah Semar mempunyai kewajiban besar untuk mengembalikan tatanan Negeri Amarta yang rusak akibat perubahan jaman juga akibat tergerusnya kebudayaan asing.  Sehingga budaya sendiri yang luhur harus segera dikembalikan. Langkah tersebut harus diambil mengingat kerusakan negara dapat dilihat dari rusaknya budaya.

Check Also

KELAS UNGGULAN UPAYA UNIBA JAWAB TANTANGAN GLOBAL

Menghadapi tantangan global membutuhkan persiapan yang matang dan sumberdaya yang mumpuni. Pergerakan dunia yang semakin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *